Senin, 30 Oktober 2017

999 Senyuman dan Tawa Di Pulo D

999 Senyuman dan Tawa di Pulo Dua
Boca tawa

     Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki begitu banyak kekayaan, salah satu kekayaan dari Indonesia adalah keindahan pulau-pulau yang dimilikinya. Salah satu pulau di antara lebih dari 17.000 pulau yang ada yakni Pulo Dua. Pulo dua merupakan salah satu pulau yang terletak di bagian Utara Kecamatan Balantak Kabupaten Banggai dengan jarak tempuh dari kota luwuk kurang lebih 3 jam melalui perjalanan darat. Pulo Dua adalah Destinasi unggulan wisata Kab. Banggai yang pada Oktober 2017 ini telah diexplore melalui pegelaran festival Pulo Dua. Keindahan yang dijanjikan adalah keindahan Laut, Pantai dan pegunungan, sehingganya saya pun berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini bersama rekan-rekan kerja yang ingin berpasrtisipasi dan menikmati keindahan yang dijanjikan.
     Pada tulisan ini saya bukan bercerita tentang sebuah perjalanan wisata sendiri, namun ingin bercerita tentang kisah yang kami alami sungguh sebuah kisah yang tak akan terlupakan untuk kami. Dan sebelum itu pastinya para pembaca harus tahu dulu yaaa tim ini berjumlah 17 orang yang merupakan rekan kerja namun pada tulisan ini kami disebutnya tim Boca Tawa.
     Pada tanggal 27 kami berangat dari kecmatan Batui, keberangkatan ini sebenarnya sudah terencana namun pada hari ini kami semua tegang antara berangkat atau tidak hal ini karena apa yang direncanakan tidak sesuai pada hari ini, yaa namanya juga manusia, hanya bisa merencanakan yaaa….
     Lintas cerita kami berangkat dengan menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam dan dalam perjalanan senyuman dan tawa belum banyak terlihat hal ini mungkin saja dalam fikiran kami adalah pada apa yang ditinggalkan yaitu pekerjaan, keluarga, kekasih dan tentunya faslitas yang kami memiliki masing-masing. Perjalanan yang cukup menguras energi dan sampai kami di Desa Pulo Dua Kecamatan Balantak Utara kami pun mengerutkan dahi dengan semuanya memegang HP dan serempak saling bertanya kenapa tidak ada jaringan, apakah memang tidak ada jaringan, terus bagaimana kita bisa berkomunikasi? Hati pun mulai bingung penyesalan pun sudah mulai ada dari beberapa anggota, namun apa dikata kita sudah di sini.
     Kami pun mencoba mengikuti kearah keramaian dan setibanya disana kami tercengang, dahi yang mengerut berubah menjadi datar dan bibir pun mulai tersenyum dan berkata Luar Biasa. Yaa… Luar biasa kami disajikan dengan warna warni tenda yang berdiri di sepanjang
pasir pantai dengan rapinya, dan kami disajikan dengan pemandangan pulau, pegunungan dan sungguh luar biasa. Hp yang digenggam pun seirama dimasukan dalam tas dan kantong masing-masing, kami tidak lagi berfikir tentang jaringan untuk berkomunikasi, kami sehampir terhipnotis dan lupa dengan apa yang kami fikirkan sejam sebelumnya, hal ini karena apa yang kami lihat sungguh luar biasa.
Kami pun bersepakat akan menikmati momen ini, momen yang mungkin tidak bisa kami dapatkan lagi dilain waktu, keramahan warga lokal, ungkapan dialeg bahasa yang
menurut kami unik, mandi harus menimbah di sumur, inilah yang akan menjadi lingkungan kita untuk 3 hari ini. Saat ini kami baru menikmati dengan mata, kami baru bisa memuja dengan melihat, belum saatnya untuk merasakan karena masing-masing dari kami masih disibukan dengan urusannya, dan sampailah pada saat malam hari, kami berjalan menelusuri panjangnya pantai yang berpasir, sembari kaki berlari kecil-kecilan untuk bermain ombak, kami tersenyum dan tertawa bebas, hal ini tidak pernah kami lakukan di tempat kerja.
     Kaki ini tak pernah berhenti untuk melangkah, mata ini tak pernah berhenti menatap, hati ini tak berhenti memuja dan yang pasti bibir ini tak pernah berhenti tersenyum dan tertawa dengan tingkah yang kita lakukan, tingkah yang kocak dan ungkapan yang bebas. Momen ini sungguh luar biasa kami bukan hanya disuguhkan dengan keindahan alam yang eksotis namun kami pun berkesmpatan bertemu dan bercanda dengan Warga dan Pemerintah Kecamatan Kintom dan Batui yang ternyata ada juga di Pulo Dua ini. Sebuah komunikasi non formal yang cair dengan diisi canda yang mengahsilkan senyuman dan tawa pada kita semua. Berjalan di atas pasir dengan kaki di tempah deburan ombak dan mata ketika menengok kekiri disuguhkan keindahan laut yang diramaikan dengan perahu para peserta dan ketika menegoh ke kanan kami disuguhkan jajaran tenda yang berbaris rapi sungguh perjalanan yang lengkap.
     Saat kaki ini lelah dan butuh isterahat, kami pun duduk menikmati suguhan pentas seni, kami menikmatinya suguhan tari daerah lokal, dan tarian daerah lain rasa-rasanya kami sesaat ada di Banggai ketika kami disuguhkan tarian banggai, setelah itu kami seperti di Bali saat kami disuguhkan tarian Bali dan ada saatnya kami merasa ada di Jawa saat menyaksikan tarian reok. Mulut ini tak berhenti memuja, tangan ini tak berhenti bertepuk. sudah cukup untuk istarahat dan sekarang sudah saatnya merakasan bukan lagi melihat maka kami pun kembali berjalan menyisiri tenda dan stand para pengunjung, kami menyempatkan waktu untuk mendengarkan alunan music akustik dengan secangkir kopi di tangan kami, canda dan tawa terus terjadi dan tawa tidak lagi tertahan kami sungguh menikmati bisa bersama tim ini di moment ini.
     Secangkir kopi ditangan menjadikan kami telalu larut dalam canda hingga ternyata ada berberapa dari kami yang sudah berjalan mencari kenikmatan sendiri, yaaa… kenikmatan pesona Pulo Dua tentunya, kami pun saling mencari serasa seperti lagi bermain petak umpet atau serasa tidak ingin terpisahkan di moment yang luar biasaini, disaat ketemu 1, giliran yang lain lagi yang hilang, kocak memang, kami pun selanjutnya memutuskan menikmati desiran hembusan angin di pantai, kami duduk dengan beralaskan pasir kami bercanda kami membahas hal yang luar biasa kocak, canda dan tawa makin terjadi larutnya waktu, dinginnya sepoyan angin malam tak lantas membuat kami berhenti, kami terus bercanda sampai akhirnya beberapa dari kami yang hilang entah kemana pun kembali dengan sendirinya,,, seperti cerita jaelangkung saja ya, datang tak dijempu pulangnya tak diantar…
     Kami terus menikmati moment ini, sehingganya kami bersepakat ingin menyambut sang fajar d pagi hari, kami pun beristerahat sejenak kami tertidur ada yang di tenda namun sebagian memutuskan tidur beratapkan langit dan ingin merasakan hembusan angin alami Pulo Dua dan nyanyian merdu dari deburan ombak pulo Dua dan ternyata ada juga dari kami yang mengiringi irama nanyian dengan suara saat tidur, yaa… tidak banyak yang bisa seperti ini tidur ditepi pantai, beratapkan langit tapi masih Ngorok juga, sehingganya irama pun jadi lengkap dan kami tertidur sejenak sembari bersyukur atas Ciptaan Tuhan yang Luar biasa dan atas kesempatan menikmatinya…
     Alam semesta membangunkan kami melalui desiran angin, kami terbangunkan dan siap menyambut sang fajar, kami berlarian ke ujung Pantai untuk dapat menyambutnya namun kami terlambat, kami tidak bisa menyambut sang fajar karena kami terlambat untuk naik ke bukit.
     Kami pun bersepakat bahwa kami akan menyambut sang fajar, semangat tepat di hari Sumpah Pemuda ini membuat Kami memutuskan akan mendaki gunung Lukapan Desa Kampangar. Namun sebelumnya kami memutuskan menikmati keindahan Pulo Dua dengan menaiki tangga tandalo di Pulo Dua, yaa… tandalo merupakan bahsa lokal masyarakat disini yang berarti pelangi, tangga ini dinamakan tangga tandalo karena setiap anak tangganya di cat warna-warni seperti pelangi, tangga tandalo kami naiki dan dari atas Pulo Dua kami disuguhkan pemandangan yang begitu Indah kami pun seperti mendapatkan energi dan semangat baru dan tentunya inspirasi, seperti salah satu dari kami bahkan berhasil menciptakan sebuah lirik lagu, meskipun kami belum dapat VCD lagu ciptaan itu sampai sekarang…
     Gunung Lukapan yang kami berencana untuk naiki Nampak terlihat jelas dari tempat kami berdiri, sebuah gunung yang tandus, dan cukup untuk kami bisa menyambut sang fajar nantinya, kami pun akan mendaki pada malam hari kami berangkat jam 01.00 Wita, kami pun mulai mendaki dengan ucapan Doa dan semangat menghantar kami tepat di bawah kaki gunung Lukapan, mata kami tertuju pada setiap anak tangga, kami pun tersenyum dan berkata kalau menaiki anak tangga maka tentunya tidak lah terlalu sulit, kami mulai meniaki satu demi satu anak tangga dimana setiap anak tangganya teriring salam dan doa untuk semua, nafas pun mulai memburu sudah 100 anak tangga kaki ini dipijakan namun belum juga sampai, kami pun bertanya kepada pemandu ternyata masih ada 120 anak tangga lagi yang harus kami naiki, senyuman kami berubah dengan wajah yang binggung, hati kami bertanya apakah akan sanggup sampai di piuncak lukapan ini?
Pertanyaan demi pertanyaan terus ada dalam hati kami, kami yang bukan lah pendaki gunung tentunya lumayan berat untuk hal ini, diantara kami pun mulai saling menggengam tangan untuk membantu, saling memberikan semangat dan akhirnya tangga ke 260 pun kami injak, namun kami binggung ternyata ini pun belum berakhir  mata kami tertuju pada apa yang ada di depan kami, kami harus mengangkat kepala lurus ke atas agar dapat melihat, apakah ini yang harus kami lalui lagi, ini adalah gunung yang memiliki medan yang rumit kemiringannya hamipr 85 derajat dengan kountur tanah berpasir dan bisa saja bebatuannya jika dipijak akan jatuh, ini mirip filem 5 cm yang pernah kami tonton jika mereka mendaki puncak gunung Mahameru, maka kami mendaki gunung Lukupan. Medannya mirip-mirip di puncak terakhir Mahameru. Satu persatu dari kami mulai khawatir akan keselamatan, tapi semangat dan kepercayaan dengan sesama kami membuat kami semua bertekad menaklukan Gunung Lukapan ini, kami pun mulai mendaki dan satu persatu dari kami membutuhkan gengaman tangan, membutuhkan semangat, tidak sedikit diantara kami yang hampir terjatuh namun kami adalah satu tim, kami adalah satu rasa, dan kami adalah satu keluarga sehingganya sudah kewajiban untuk saling melindungi. Diantara kami sudah ada juga yang hampir mengeluarkan air mata, sudah ada yang ingin mengungkapkan ucapan menyerah, namun kami bisa dan tepat jam 03.30 kami semua berhasil menginjakkan kaki di puncak Gunung Lukapan, kami disambut kibaran Benderah Merah Putih, kami terharu, kami saling merangkul, sungguh tidak menyangka kami semua bisa menginjakkan kaki di Puncak ini.
    
Puncak Lukapan memberikan kami sebuah suguhan untuk menghilangkan kecemasan dan kelelahan kami. suguhan pemandangan yang luar biasa, lelah kami terbayarkan cemas kami hilang seketika kami tidak berfikir lagi bagaimana nantinya menuruni puncak ini, yang kami fikirkan hanyalah sungguh atas ciptaan Tuhan yang luar biasa dan sebuah pelajaran berharga bagi tim kami. Kami menikmati moment di puncak ini sembari menunggu sang fajar untuk kami jemput kami bercengkrama, bercanda dan tertawa sungguh luar biasa secangkir Kopi daun hitam yang menghangatkan kami, yaa… kopi Daun hitam itu kopi yang hanya ada di Gunung Lukapan merupakan karya salah satu dari kami.
    
Sang fajar pun mulai terlihat muncul, kami menyambutnya dengan senyuman bahagia, bersyukur bersama karena kami dapat menyambutnya bersama di puncak Lukapan ini. Setelah selesai berfoto-foto dan kami rasa cukup sudah menikmati keindahan yang katanya Mirip Raja Ampat ini, kami memutuskan untuk berkemas dan balik pada jam 07.30 pagi. Kami sungguh mendapatkan kebahagiaan, mendapatkan semangat dan kekompakan, kami pun menuruni Lukapan dengan titipan salam dan doa. Penurunanya lumayan memberatkan namun kami lalui dengan bekerjasama, dan tak jarang juga kami hampir terjatuh di tepian jurang, hingga akhirnya kami pun sampai di anak tangga pertama yang mendandakan bahwa kami telah berhasil menaklukan lukapan.
     Perjalanan Pulo Dua merupakan kisah yang kami buat, banyak hal yang kami dapatkan yang pasti sebagai tim kami banyak mendapatkan pelajaran, kekompakan, kebersamaan, bersama sepenanggungan, dan tercipta sebuah energi kekeluargaan diantara kami, kami memang tidak terlahir serahim namun Pulo Dua mengikat kami dalam sebuah bingkai keluarga.
     Terimakasih Tuhan atas karuniaMu sehingga kami dapat menikmati CiptaanMu yang Luar biasa, semoga kita semua dapat menjaga ciptaan Mu ini dan kami Tim Boca Tawa setelah ditanyakan 1 kata dari kami semua kami nyatakan bahwa :
PULO DUA: Luar Biasa…Wonderfull…Indah…Hal Baru…Yang Wooow….Mengharuhkan…Membuat Kita Jadi Lebay….

Boca Tawa:
Rohani Simbolon, Iwan, Boris, Fitri RA, Indri, Wiwin, Oya, Deni, Ramli, Ardi, Saldi, Acong, Agus Yahya, Hamid, Sofi, Kifli, Yono, Ai.
Share:

About

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Labels